Banyuwangi, Opini – pedot.pro || Pembina Umum LBH Watoniah, Selamet Solichin yang akrab disapa Mbah Semar, mengajak masyarakat untuk tetap istiqamah dalam berbuat baik meskipun kerap menghadapi penilaian negatif, fitnah, maupun prasangka yang tidak sesuai dengan kenyataan. Menurutnya, dalam kehidupan sosial, tidak semua niat baik akan dipahami oleh setiap orang, sehingga diperlukan kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan hati dalam menjalani setiap proses kehidupan.
Mbah Semar mengatakan bahwa seorang muslim tidak boleh menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran utama dalam melakukan kebaikan. Sebab, dalam ajaran Islam yang menjadi ukuran adalah niat, amal, dan keridhaan Allah SWT, bukan pujian ataupun pengakuan dari sesama manusia.
“Biarkan orang menilai kita salah, padahal niat kita baik. Jangan terlalu dipikirkan. Jika apa yang kita lakukan benar dan bermanfaat bagi orang banyak, maka tetaplah berjalan di jalur kebaikan. Rezeki bukan berasal dari organisasi, kelompok, ataupun individu tertentu, melainkan dari Allah SWT yang Maha Mengetahui isi hati dan setiap perbuatan manusia,” ujar Mbah Semar.
Menurutnya, pesan tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan niat sebagai pondasi utama dalam setiap amal perbuatan. Rasulullah SAW telah mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Oleh karena itu, ketika seseorang melakukan suatu pekerjaan atau pengabdian dengan niat yang tulus karena Allah SWT, maka penilaian negatif dari manusia tidak akan mengurangi nilai ibadah dan kebaikan yang telah dilakukan.
Mbah Semar menjelaskan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat sering kali muncul berbagai penilaian yang didasarkan pada asumsi, informasi yang belum jelas, bahkan prasangka. Padahal Islam mengajarkan prinsip tabayyun atau klarifikasi sebelum memberikan penilaian terhadap seseorang.
“Jangan mudah menuduh atau menghakimi orang lain tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya. Islam mengajarkan keadilan dan kehati-hatian dalam menilai seseorang. Banyak orang yang terlihat salah di mata manusia, tetapi justru benar di hadapan Allah karena niat dan perjuangannya,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dari perspektif hukum Islam, seseorang tidak dapat dinyatakan bersalah hanya berdasarkan opini, dugaan, atau cerita sepihak. Islam mengedepankan prinsip pembuktian, keadilan, dan klarifikasi sebagai bagian dari menjaga hak-hak setiap manusia.
Mbah Semar juga mengingatkan pentingnya sikap tawakal dalam menghadapi tekanan sosial maupun kepentingan kelompok tertentu. Menurutnya, banyak orang merasa takut kehilangan posisi, jabatan, pergaulan, atau dukungan karena mempertahankan prinsip yang diyakininya benar. Padahal seorang muslim harus meyakini bahwa segala rezeki, kemudahan, dan pertolongan berasal dari Allah SWT.
“Organisasi, jabatan, dan relasi hanyalah sarana. Jangan pernah mengorbankan prinsip kebenaran demi mencari pengakuan manusia. Allah yang mengatur rezeki setiap hamba-Nya. Selama kita berusaha dan berbuat baik, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha tersebut,” tegasnya.
Menurut Mbah Semar, sejarah Islam juga memberikan banyak pelajaran tentang pentingnya keteguhan dalam menghadapi berbagai ujian. Para nabi, ulama, dan tokoh-tokoh yang memperjuangkan kebenaran sering kali mendapatkan penolakan, fitnah, bahkan perlakuan yang tidak adil. Namun mereka tetap sabar dan istiqamah karena meyakini bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya dukungan manusia, melainkan oleh kesesuaiannya dengan ajaran Allah SWT.
Ia menambahkan bahwa kesabaran bukan berarti lemah atau menyerah terhadap keadaan. Sebaliknya, kesabaran adalah kemampuan mengendalikan diri agar tidak terpancing emosi dan tetap fokus pada tujuan yang baik. Sikap tersebut menjadi salah satu akhlak mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Meski demikian, Mbah Semar juga mengingatkan agar setiap orang tetap terbuka terhadap kritik yang membangun. Menurutnya, tidak semua kritik bertujuan menjatuhkan. Ada kritik yang lahir dari kepedulian dan menjadi sarana introspeksi untuk memperbaiki diri.
“Kita harus bisa membedakan mana kritik yang membangun dan mana fitnah yang bertujuan menjatuhkan. Jika kritik itu benar, jadikan sebagai bahan evaluasi. Namun jika hanya berupa prasangka dan tuduhan tanpa dasar, maka serahkan kepada Allah dan tetap fokus berbuat baik,” ujarnya.
Di akhir pesannya, Mbah Semar mengajak masyarakat untuk tidak menghabiskan hidup mengejar pujian manusia. Ia menekankan bahwa yang terpenting adalah menjaga keikhlasan, memperbanyak amal saleh, menjunjung tinggi akhlak mulia, serta terus memberikan manfaat bagi sesama.
“Pada akhirnya yang akan kita pertanggungjawabkan bukanlah penilaian manusia, melainkan amal dan niat kita di hadapan Allah SWT. Karena itu, tetaplah istiqamah dalam kebaikan, jangan lelah membantu sesama, dan jangan berhenti berbuat baik hanya karena ada orang yang salah menilai kita,” pungkas Mbah Semar.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa dalam kehidupan yang penuh dinamika, keikhlasan, kesabaran, dan tawakal merupakan fondasi penting bagi setiap muslim untuk tetap teguh berjalan di jalan kebaikan, sekaligus menjaga persatuan, keharmonisan, dan nilai-nilai kemanusiaan di tengah masyarakat.






