SURABAYA – Pedot.pro || Satu pesan tegas dilontarkan Aipda Sigit Dwi Susanto, personel Unit III Opsnal Subdit Jatanras Polda Jawa Timur yang dikenal dengan julukan “Hellboy”. Bagi dirinya, kejahatan bukan untuk ditoleransi, melainkan untuk diburu dan ditumpas hingga ke akar-akarnya.
Dengan gaya khasnya yang lugas dan tanpa basa-basi, Hellboy menegaskan bahwa selama dirinya masih mengemban tugas sebagai anggota Polri, tidak akan ada ruang aman bagi para pelaku kriminal.
“Dimanapun kejahatan berada, saya Hellboy akan menjadi garda terdepan untuk memberantasnya. Tidak ada tempat bagi pelaku kejahatan yang meresahkan masyarakat,” tegasnya.
Ucapan tersebut bukan sekadar semboyan. Di lapangan, Hellboy dikenal sebagai sosok yang berani menghadapi risiko demi menegakkan hukum. Saat banyak orang menghindari bahaya, ia justru berada di garis terdepan memburu pelaku kejahatan yang mengancam keamanan masyarakat.
Julukan “Hellboy” telah menjadi simbol ketegasan dalam penindakan kriminalitas. Namun di balik ketegasannya, Aipda Sigit tetap mengedepankan pendekatan humanis kepada masyarakat. Baginya, polisi dan rakyat adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam menjaga keamanan.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan perubahan zaman membuat modus kejahatan semakin beragam. Karena itu aparat penegak hukum tidak boleh lengah. Kecepatan bertindak, kecerdasan membaca situasi, dan keberanian mengambil keputusan menjadi senjata utama dalam menghadapi para pelaku kriminal.
“Informasi masyarakat adalah kekuatan bagi kami. Jika polisi dan masyarakat bersatu, kejahatan tidak akan memiliki ruang untuk berkembang,” ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan dan kritik yang datang silih berganti, Hellboy memilih tetap fokus pada tugas. Baginya, pengabdian kepada masyarakat lebih penting daripada mencari pujian.
“Hujatan boleh datang, risiko boleh menghadang. Tetapi keamanan rakyat tidak boleh tumbang. Selama kejahatan masih ada, kami akan tetap berdiri di garis depan untuk melawannya,” pungkasnya.
BOOMA! Bagi Hellboy, kejahatan bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dikejar. Dan selama ia masih berdiri sebagai Bhayangkara, para pelaku kriminal tak akan pernah benar-benar merasa aman.






