SLEMAN | Pedot.Pro – Ancaman kekeringan dan keterbatasan air bersih menuntut masyarakat untuk tidak lagi memandang hujan sekadar sebagai fenomena alam yang datang dan pergi. Air hujan perlu dipahami sebagai potensi sumber daya yang dapat ditampung, dikelola, dan dimanfaatkan secara tepat untuk memperkuat ketahanan air masyarakat.

Kesadaran tersebut menjadi fokus Workshop Pemanfaatan Air Hujan yang digelar Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman melalui bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam pada Kamis, 8 Oktober 2026, di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Tempursari, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi kekeringan berkepanjangan, termasuk risiko yang berkaitan dengan fenomena El Niño, sekaligus memperkenalkan sumber air alternatif yang dapat dikelola secara berkelanjutan.
Workshop melibatkan perwakilan Kapanewon Prambanan yang mencakup enam kalurahan, yakni Bokoharjo, Gayamharjo, Madurejo, Sambirejo, Sumberharjo, dan Wukirharjo. Wilayah tersebut menjadi perhatian dalam upaya memperkuat ketahanan akses air bersih. Secara administratif, Kapanewon Prambanan terbagi menjadi 68 padukuhan.
Turut hadir unsur Dinas Lingkungan Hidup, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), staf Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, serta Mirza Anfansury, S.T., M.T., Staf Ahli Bupati Sleman Bidang Ekonomi dan Pembangunan.
Mirza Anfansury: Pemanfaatan air hujan perlu menjadi gerakan bersama
Dalam sambutannya, Mirza Anfansury menyoroti pentingnya memperluas pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan air hujan, terlebih ketika ancaman kekeringan menjadi perhatian dalam pengelolaan sumber daya air.
Ia juga menyinggung momentum Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) yang dijadwalkan berlangsung pada 13–19 Oktober 2026. Menurutnya, kunjungan Gubernur DIY ke stan Sekolah Air Hujan Banyu Bening dalam penyelenggaraan FKY sebelumnya, termasuk pengalaman mencicipi air hujan yang diolah oleh komunitas tersebut, dapat menjadi inspirasi untuk memperkenalkan pemanfaatan air hujan kepada masyarakat lebih luas.
“Momentum tersebut menjadi contoh yang baik untuk kita ikuti. Pemanfaatan air hujan bisa menjadi salah satu alternatif dalam menghadapi persoalan krisis air, terutama ketika masyarakat harus bersiap menghadapi dampak El Niño,” ujar Mirza.
Pesan yang ingin dibangun bukan sekadar mengajak masyarakat menampung air hujan, melainkan menyiapkan pengetahuan dan kebiasaan baru sebelum kesulitan air benar-benar terjadi. Mitigasi kekeringan perlu dimulai sejak tersedia kesempatan untuk belajar, merencanakan, dan membangun sarana penampungan.
Krisis air bukan hanya persoalan kemarau, tetapi juga persoalan edukasi
Dalam sesi utama, Sri Wahyuningsih, S.Ag., yang akrab disapa Bu Ning, menjadi narasumber dengan memaparkan pentingnya pengetahuan tentang pengelolaan air hujan. Ia mengajak peserta mengevaluasi cara pandang yang selama ini membuat hujan kerap dibiarkan berlalu, sementara ketika kemarau datang masyarakat justru kesulitan memperoleh air bersih.
Menurut Bu Ning, salah satu tantangan yang perlu dijawab adalah kesenjangan pengetahuan. Sebagian masyarakat dahulu terbiasa memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi kini muncul kekhawatiran terhadap pencemaran lingkungan dan keamanan air.
Kekhawatiran tersebut tidak seharusnya dijawab hanya dengan menyatakan bahwa semua air hujan aman diminum. Sebaliknya, masyarakat perlu memperoleh edukasi yang benar mengenai cara menangkap air hujan, menjaga kebersihan tempat penampungan, melakukan pengolahan, serta memeriksa kualitas air sesuai peruntukannya.
“Kalau kita tidak menyiapkan solusi dan pengetahuan dari sekarang, bagaimana masyarakat menghadapi kondisi beberapa tahun ke depan ketika tekanan terhadap lingkungan dan sumber air semakin besar?” demikian pesan yang ditekankan dalam sesi edukasi tersebut.
Bu Ning mengingatkan bahwa bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, menjadi tantangan yang membutuhkan kesiapsiagaan. Pada saat yang sama, air hujan yang melimpah pada musim penghujan dapat menjadi potensi sumber daya apabila dikelola dengan perencanaan yang baik.
Pertanyaan mendasar pun muncul: mengapa air hujan yang tersedia setiap musim penghujan tidak dimanfaatkan secara lebih terencana untuk membantu memenuhi kebutuhan air ketika kemarau tiba?
Mengenal konsep 5M: Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, Mandiri
Dalam workshop tersebut, Sekolah Air Hujan Banyu Bening memperkenalkan konsep 5M, yaitu Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, dan Mandiri. Konsep ini menjadi panduan edukasi agar peserta memahami tahapan pengelolaan air hujan, mulai dari penangkapan hingga pemanfaatannya secara bertanggung jawab.
Melalui penjelasan dan praktik langsung, peserta diperkenalkan pada prosedur penampungan yang benar, pentingnya menjaga kebersihan sarana, serta langkah-langkah pengolahan dan pemeriksaan kualitas air.
Sekolah Air Hujan Banyu Bening telah mengembangkan edukasi pemanenan air hujan sejak 2012 di bawah pendampingan Bu Ning sebagai pelopor gerakan memanen air hujan. Pengalaman tersebut menjadi landasan untuk membagikan pengetahuan kepada masyarakat, komunitas, dan berbagai pihak yang ingin mengembangkan ketahanan air di wilayah masing-masing.
Prinsip penting yang ditekankan adalah bahwa air hujan tidak cukup hanya ditampung. Pengelolaannya harus memperhatikan kondisi lingkungan, kebersihan atap dan saluran, pembuangan aliran awal bila diperlukan, kondisi wadah penyimpanan, serta kualitas air sebelum digunakan.
Untuk konsumsi, air harus memenuhi persyaratan keamanan sesuai standar yang berlaku. Pemeriksaan fisik sederhana atau pengukuran TDS tidak dapat menggantikan pengujian mikrobiologi maupun pemeriksaan kontaminan lain yang mungkin terdapat dalam air.
Dengan demikian, pemanfaatan air hujan tidak hanya menjadi gerakan lingkungan, tetapi juga bagian dari pendidikan kesehatan dan literasi sumber daya air.
Peserta membandingkan air hujan dan air tanah melalui TDS tester
Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah praktik pengukuran menggunakan alat Total Dissolved Solids (TDS) tester. Peserta diajak membandingkan sampel air hujan dan air tanah untuk melihat perbedaan jumlah zat padat terlarut yang terukur.
Praktik ini memberikan pengalaman langsung mengenai karakteristik air dari sumber yang berbeda. Hasil pengukuran TDS dapat menjadi bahan pengenalan awal, tetapi tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa suatu sampel air lebih sehat atau lebih aman diminum.
Air dengan TDS rendah masih mungkin mengandung mikroorganisme patogen atau kontaminan lain yang tidak terdeteksi oleh alat tersebut. Karena itu, edukasi mengenai air hujan perlu berjalan beriringan dengan pengetahuan tentang sanitasi, pengolahan, dan pengujian kualitas air.
Dalam pemaparannya, Bu Ning juga menghubungkan pembelajaran tentang air dengan nilai spiritual melalui Surah Al-Furqan ayat 48, yang menjelaskan hujan sebagai bagian dari rahmat Allah SWT.
Ayat tersebut mengajak manusia untuk melihat air bukan hanya sebagai kebutuhan sehari-hari, tetapi juga sebagai anugerah yang harus disyukuri dan dijaga. Rasa syukur itu dapat diwujudkan melalui tindakan nyata: tidak membuang-buang air, menjaga lingkungan, serta menggunakan sumber daya secara bijaksana.
Air hujan gratis, pengetahuan dibagikan kepada masyarakat
Kamaludin, yang akrab disapa Bang Udin selaku Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening, menegaskan bahwa edukasi dan berbagi pengetahuan merupakan bagian penting dari gerakan pemanfaatan air hujan.
“Praktik baik yang kami lakukan setiap hari adalah berbagi air hujan dan membuka ruang konsultasi bagi masyarakat yang ingin belajar. Air hujan di Banyu Bening tidak diperjualbelikan, melainkan dibagikan secara gratis dengan semangat berbagi,” ungkap Bang Udin.
Semangat tersebut menempatkan air sebagai persoalan bersama yang membutuhkan solidaritas dan pengetahuan. Masyarakat tidak cukup hanya mengetahui bahwa air hujan dapat ditampung, tetapi juga perlu memahami bagaimana pengelolaannya agar bermanfaat dan aman.
Bagi enam kalurahan di Kapanewon Prambanan, pembelajaran semacam ini dapat menjadi titik awal untuk memetakan kebutuhan air, mengenali potensi penampungan, serta mengembangkan langkah antisipasi sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
Kolaborasi pemerintah daerah, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah kalurahan, komunitas, dan warga menjadi penting agar edukasi dapat diterjemahkan menjadi program nyata. Bentuknya dapat berupa pengembangan sarana pemanenan air hujan, pemeliharaan tempat penampungan, kampanye hemat air, hingga perencanaan pemanfaatan air untuk kebutuhan nonkonsumsi.
Bersiap sebelum krisis datang
Workshop di Sekolah Air Hujan Banyu Bening memberikan pesan bahwa ketahanan air tidak dapat dibangun hanya ketika sumur mengering atau masyarakat mulai kesulitan memperoleh air bersih. Persiapan harus dimulai lebih awal melalui edukasi, perencanaan, dan perubahan kebiasaan.
Air hujan memang bukan solusi tunggal bagi seluruh persoalan air. Namun, jika dikelola sesuai kondisi wilayah dan standar keamanan, pemanenan air hujan dapat menjadi salah satu bagian dari strategi diversifikasi sumber air, terutama untuk mengurangi tekanan terhadap sumber air tanah.
Pemerintah dan masyarakat juga perlu memastikan bahwa upaya tersebut disertai pengelolaan lingkungan, perlindungan daerah resapan, penggunaan air secara efisien, serta pemantauan kualitas sumber air yang tersedia.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan membawa pulang lebih dari sekadar materi workshop. Mereka diharapkan mampu meneruskan pengetahuan kepada keluarga dan masyarakat, kemudian mengubahnya menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan di lingkungan masing-masing.
Sebagaimana pesan dalam Surah Al-Waqi’ah ayat 68–70, manusia diajak merenungkan air yang diminum setiap hari dan menyadari betapa pentingnya anugerah tersebut bagi kehidupan.
Ketika hujan turun, jangan hanya melihat air yang jatuh dari langit. Lihatlah peluang untuk belajar, menabung air, dan mempersiapkan masa depan.
Bumi cuma satu, manusia adalah tamu. Menjaga air hari ini berarti menjaga kehidupan esok hari.
Kontributor: AJ. Purwanto





