Beranda / Pemerintahan / 14 DESA DI TULUNGAGUNG DILANDA KRISIS AIR BERSIH, BPBD–BAZNAS–FOZ SATUKAN KEKUATAN!

14 DESA DI TULUNGAGUNG DILANDA KRISIS AIR BERSIH, BPBD–BAZNAS–FOZ SATUKAN KEKUATAN!

TULUNGAGUNG | Pedot.pro— Ancaman kekeringan yang berdampak pada 14 desa di delapan kecamatan di Kabupaten Tulungagung membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan. Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Tulungagung, BAZNAS, Forum Zakat (FOZ), LAZNAS LMI, serta sejumlah lembaga kemanusiaan memperkuat sinergi untuk memastikan distribusi air bersih menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Komitmen bersama itu dibahas dalam rapat koordinasi pada Kamis (8/10/2026) di Kantor BAZNAS Kabupaten Tulungagung, Jalan Mayor Sujadi No. 172, Jepun, Kecamatan Tulungagung. Pertemuan tersebut membahas langkah penanganan kekeringan, dukungan tandon air, pengaturan jadwal distribusi, hingga pemetaan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.

Koordinasi ini menjadi penting karena persoalan yang dihadapi bukan hanya terbatasnya ketersediaan air, melainkan juga kendala teknis dalam penyalurannya. Keterbatasan armada mobil tangki dan sulitnya memperoleh bahan bakar solar membuat distribusi air bersih belum dapat dilakukan secara optimal.

Koordinator Penyaluran Air BPBD Tulungagung, Noval Hamami, mengungkapkan bahwa terdapat 14 desa di delapan kecamatan yang saat ini masuk dalam pemantauan akibat kekeringan. Kondisi tersebut membutuhkan pengaturan distribusi yang terencana agar bantuan dapat menjangkau seluruh wilayah secara proporsional.

Desa-desa yang terdampak meliputi Joho dan Rejosari di Kecamatan Kalidawir; Keboireng dan Besuki di Kecamatan Besuki; Kalidawe di Kecamatan Pucanglaban; Kresikan dan Pakisrejo di Kecamatan Tanggunggunung; Gamping di Kecamatan Campurdarat; Sebalor dan Sukoharjo di Kecamatan Bandung; Picisan di Kecamatan Sendang; serta wilayah terdampak di Kecamatan Rejotangan.

Noval menjelaskan, keterbatasan sarana distribusi membuat penyaluran air bersih saat ini baru dapat dilakukan sekitar satu kali dalam sepekan untuk setiap desa. Situasi ini menuntut koordinasi yang lebih kuat agar bantuan dapat disalurkan berdasarkan kebutuhan dan jadwal yang disepakati bersama.

“Untuk saat ini penyaluran air baru bisa dilakukan sekitar satu kali dalam satu minggu untuk satu desa. Ada kendala armada dan juga ketersediaan BBM jenis solar yang cukup sulit,” terang Noval.

BPBD juga menyampaikan informasi mengenai perkiraan perubahan musim berdasarkan informasi BMKG yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Awal November diperkirakan mulai memasuki musim hujan, sehingga diharapkan dapat membantu mengurangi dampak kekeringan. Kendati demikian, kebutuhan air bersih masyarakat tetap harus diperhatikan selama kondisi belum membaik.

Dari sisi dukungan kemanusiaan, Ketua BAZNAS Kabupaten Tulungagung, Abdul Wachid, S.IP., menyampaikan bahwa BAZNAS telah menyiapkan tandon air di delapan desa dan menyalurkan air bersih ke 12 desa. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat menghadapi keterbatasan pasokan air.

Abdul Wachid menegaskan bahwa persoalan kekeringan tidak dapat diselesaikan oleh satu lembaga saja. Sinergi antara pemerintah, lembaga zakat, relawan, dan mitra kemanusiaan dibutuhkan agar sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Ketua FOZ Tulungagung, Giarno, juga menyatakan kesiapan para mitra FOZ untuk berkolaborasi dalam program penanganan kekeringan. Ia berharap potensi setiap lembaga dapat disatukan sehingga manfaat bantuan semakin luas dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Sementara itu, Humanitarian Program LAZNAS LMI, Susanto, menekankan pentingnya pembagian jadwal distribusi secara terkoordinasi. Keterbatasan armada mobil tangki membuat seluruh pihak perlu menyepakati pembagian wilayah dan prioritas penyaluran agar tidak terjadi ketimpangan layanan.

“Jangan sampai ada desa yang mendapatkan distribusi berulang, sementara desa lain belum terlayani. Karena itu kita perlu satu jadwal bersama dan pembagian wilayah yang jelas,” ujar Susanto.

Menurut Susanto, penanganan krisis air bersih perlu dibangun melalui sistem kolaborasi yang terukur. Kesamaan data, jadwal yang terkoordinasi, dan pembagian peran yang jelas dinilai menjadi faktor penting untuk meningkatkan efektivitas distribusi bantuan.

Rapat koordinasi tersebut diharapkan menjadi landasan bagi pelaksanaan penyaluran air bersih yang lebih terarah. Setiap pihak diharapkan menjalankan peran sesuai kapasitasnya, sekaligus menjaga komunikasi agar perubahan kondisi di lapangan dapat segera ditindaklanjuti.

Selain distribusi air, dukungan tandon dan pemetaan kebutuhan setiap desa juga menjadi bagian penting dalam menghadapi kekeringan. Evaluasi berkala diperlukan untuk mengetahui wilayah yang masih mengalami kekurangan pasokan serta memastikan bantuan tidak terpusat hanya di lokasi tertentu.

Kolaborasi BPBD Kabupaten Tulungagung, BAZNAS, FOZ, LAZNAS LMI, dan para mitra diharapkan dapat membantu menjaga akses air bersih masyarakat hingga kondisi cuaca dan sumber air membaik. Penanganan yang berkelanjutan juga penting agar kebutuhan dasar warga tetap menjadi perhatian selama masa kekeringan.

Melalui koordinasi lintas sektor ini, seluruh pihak berupaya memperkuat semangat gotong royong dalam menghadapi krisis air bersih. Harapannya, tidak ada masyarakat terdampak yang terabaikan akibat keterbatasan armada, kendala distribusi, ataupun kurangnya koordinasi antarpihak. (snt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!