Jember – pedot.pro || Senin 15 Juni 2026, Malam 1 Suro yang dikenal sebagai malam penuh makna spiritual bagi masyarakat Jawa dimanfaatkan oleh banyak orang untuk melakukan introspeksi diri, mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memanjatkan doa demi keselamatan dan keberkahan hidup. Momentum sakral tersebut juga dijalani oleh LUK, seorang tenaga ahli bangunan dan reparasi rumah asal Dusun Krasak, Desa Pancakarya, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember.
Di tengah suasana malam yang tenang dan penuh kekhusyukan, LUK terlihat menengadahkan tangan seraya memanjatkan doa. Baginya, malam pergantian tahun Jawa bukan sekadar tradisi budaya yang diwariskan leluhur, tetapi juga menjadi sarana muhasabah untuk mengevaluasi perjalanan hidup serta memohon petunjuk dan perlindungan Allah SWT dalam menjalani kehidupan ke depan.
Sebagai tenaga ahli yang telah lama berkecimpung dalam bidang pembangunan dan perbaikan rumah, LUK menyadari bahwa pekerjaan yang digelutinya tidak lepas dari berbagai tantangan, risiko, serta tuntutan tanggung jawab yang besar. Karena itu, ia meyakini bahwa selain bekerja keras dan mengutamakan profesionalisme, doa merupakan kekuatan batin yang penting untuk menyertai setiap langkah kehidupan.
“Malam 1 Suro menjadi waktu yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Saya memohon kesehatan, keselamatan keluarga, kelancaran rezeki, serta kemudahan dalam menjalankan pekerjaan sebagai tenaga ahli bangunan dan reparasi rumah,” ujar LUK.
Menurutnya, malam 1 Suro memiliki filosofi yang sangat mendalam. Selain menandai pergantian tahun dalam kalender Jawa, malam tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia selalu mengalami perubahan sehingga diperlukan keseimbangan antara usaha lahiriah dan kekuatan spiritual.
LUK juga mengajak masyarakat untuk menjadikan malam 1 Suro sebagai momentum memperbaiki diri, memperkuat hubungan sosial, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
“Manusia hanya mampu berikhtiar, sementara hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah SWT. Karena itu, mari kita perbanyak doa, menjaga silaturahmi, dan saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat,” tuturnya.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, pria asal Dusun Krasak tersebut berharap nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan kearifan lokal yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa tetap terpelihara. Menurutnya, budaya dan spiritualitas merupakan fondasi penting dalam membangun karakter masyarakat yang kuat, harmonis, dan berakhlak.
Malam 1 Suro sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu malam yang istimewa dalam tradisi Jawa. Berbagai kegiatan seperti doa bersama, dzikir, tahlil, pengajian, hingga kegiatan sosial kerap dilakukan masyarakat sebagai bentuk rasa syukur sekaligus harapan agar tahun yang baru membawa keberkahan dan keselamatan.
Melalui momentum tersebut, LUK berharap seluruh masyarakat, khususnya para pekerja, tukang bangunan, dan pelaku usaha kecil, diberikan kekuatan, kesehatan, serta kemudahan dalam mencari nafkah yang halal dan berkah.
“Semoga di tahun yang baru ini kita semua diberikan kesehatan, keselamatan, rezeki yang melimpah dan berkah, dijauhkan dari segala musibah, serta diberikan kemudahan dalam setiap urusan. Mari jadikan malam 1 Suro sebagai momen untuk memperbaiki diri dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT,” pungkasnya.
(Redaksi Jejak Indonesia)






