Beranda / MOTIVASI / JANGAN BIARKAN MATA AIR KEHILANGAN PENJAGANYA! UPN VETERAN YOGYAKARTA TANAM BERINGIN DI SENDANG KALI LEMUSUR, GUNUNGKIDUL

JANGAN BIARKAN MATA AIR KEHILANGAN PENJAGANYA! UPN VETERAN YOGYAKARTA TANAM BERINGIN DI SENDANG KALI LEMUSUR, GUNUNGKIDUL

GUNUNGKIDUL | pedot.pro– Menjaga sumber air bukan sekadar menanam pohon, tetapi memastikan bahwa tanah tetap mampu menopang kehidupan dan generasi mendatang tidak kehilangan sumber daya yang paling mendasar. Berangkat dari kesadaran tersebut, Fakultas Ilmu Tanah Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta bersama mahasiswa, komunitas, dan masyarakat menggelar aksi konservasi tanah dan air di kawasan Sendang Kali Lemusur, Dusun Pacar II, Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Ahad (4/10/2026).

Mengusung tema “Rooted in Care, Growing with Hope” atau “Berakar dalam Kepedulian, Tumbuh dengan Harapan,” kegiatan ini menjadi wujud pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi lingkungan dan penanaman pohon beringin. Program tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Susila Herlambang, M.Si., Ketua Jurusan Ilmu Tanah UPN “Veteran” Yogyakarta.

Aksi ini membawa pesan penting: kelestarian sumber air tidak bisa hanya diharapkan, tetapi harus diupayakan melalui langkah nyata. Tanah, pepohonan, air hujan, dan mata air merupakan bagian dari satu kesatuan ekosistem yang membutuhkan perhatian serta pemeliharaan secara berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan perkenalan dan sambutan dari Dafid Arly Istaghna selaku Ketua Pelaksana, Bima Wirayuda Wijaya selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah (HIMITA), serta Raden Agus Widodo, S.P., M.P., selaku Koordinator Program Studi Ilmu Tanah. Hadir pula unsur RT dan RW, Karang Taruna, warga Dusun Pacar II, komunitas, serta mahasiswa relawan.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa persoalan konservasi bukan hanya urusan akademisi atau pemerhati lingkungan. Masyarakat yang setiap hari berinteraksi dengan kawasan sumber air memiliki peran penting dalam memastikan bahwa upaya pelestarian tidak berhenti setelah kegiatan selesai.

Musim kemarau menjadi ujian bagi kepedulian

Penanaman pohon beringin dilakukan ketika musim kemarau masih berlangsung. Kondisi ini menuntut perhatian khusus karena tanaman yang baru ditanam membutuhkan ketersediaan air agar dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Bibit beringin yang ditanam memiliki tinggi sekitar 1–1,5 meter. Untuk membantu penyiraman, panitia menggunakan sistem infus dengan air yang bersumber dari Sendang Kali Lemusur.

Teknik tersebut menjadi bentuk penyesuaian terhadap kondisi lapangan. Namun, keberhasilan penanaman tetap bergantung pada pemeliharaan lanjutan, pemantauan kondisi tanaman, dan kecukupan air selama masa pertumbuhan.

Penanaman berikutnya direncanakan dilanjutkan pada musim penghujan. Harapannya, kegiatan ini berkembang menjadi gerakan konservasi yang berkesinambungan, bukan sekadar seremoni penanaman bibit.

Sebab, pohon yang ditanam belum tentu tumbuh kuat tanpa perawatan. Kepedulian terhadap lingkungan baru benar-benar terlihat ketika tanaman tetap dijaga setelah para peserta meninggalkan lokasi.

Beringin, vegetasi konservasi untuk menjaga tanah

Dalam sesi edukasi, Ir. Dyah Arbiwati, M.P., menyampaikan materi mengenai konservasi tanah dan air. Ia menekankan bahwa tanah perlu dilindungi melalui vegetasi yang sesuai dengan kondisi lingkungan, salah satunya tanaman dari famili Ficus, termasuk beringin.

Sistem perakaran pepohonan dapat membantu memperkuat struktur tanah dan mendukung pengendalian erosi. Sementara itu, tutupan vegetasi membantu mengurangi dampak langsung air hujan terhadap permukaan tanah serta mendukung proses peresapan air, bergantung pada kondisi tanah dan lokasi.

“Tanah agar tetap terjaga harus ditanami dengan tanaman konservasi seperti famili Ficus atau beringin yang saat ini ditanam. Akar-akarnya membantu mencengkeram tanah, sedangkan vegetasi turut mendukung siklus air dan penyimpanan air di dalam tanah,” jelas Arbiwati.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan karakteristik lahan, khususnya kawasan dengan kemiringan yang rentan. Penggunaan lahan untuk tanaman semusim tanpa teknik konservasi yang memadai berpotensi meningkatkan erosi dan risiko pergerakan tanah.

Karena itu, pengelolaan lahan perlu disesuaikan dengan kondisi setempat. Penanaman vegetasi konservasi, pengaturan aliran air, dan perlindungan area resapan merupakan langkah yang dapat saling mendukung dalam menjaga lingkungan.

Arbiwati turut mendorong pemanfaatan lahan yang memungkinkan untuk penampungan air hujan. Air yang terkumpul dapat digunakan untuk menunjang perkebunan dan peternakan sesuai kebutuhan, dengan memperhatikan kualitas air serta sistem penampungan yang aman.

Bang Udin ajak masyarakat melihat hujan sebagai potensi kehidupan

Edukasi mengenai pemanfaatan air hujan juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Bang Udin dari Komunitas Sekolah Air Hujan Banyu Bening mengajak masyarakat memahami bahwa air hujan memiliki potensi sebagai sumber air alternatif apabila dikelola secara benar.

Pemanfaatan air hujan dapat membantu mengurangi ketergantungan pada sumber air tertentu, terutama apabila didukung dengan sistem penampungan, pengolahan, dan penggunaan yang sesuai. Kualitas air harus tetap diperiksa berdasarkan peruntukannya; nilai TDS rendah saja tidak menjamin air aman untuk diminum.

Pesan tersebut sejalan dengan upaya menjaga keseimbangan lingkungan. Air hujan yang tidak dikelola dapat menjadi limpasan permukaan, sedangkan air yang ditampung dan dimanfaatkan secara tepat dapat membantu memenuhi kebutuhan tertentu. Upaya peresapan air melalui sumur resapan atau biopori juga dapat dipertimbangkan sesuai kondisi tanah dan aturan setempat.

Bang Udin mengaitkan tanggung jawab menjaga lingkungan dengan pesan dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, tentang manusia yang diberi amanah sebagai khalifah di bumi. Pesan itu menjadi pengingat bahwa manusia tidak hanya memanfaatkan alam, tetapi juga berkewajiban merawatnya.

Menjaga mata air, melindungi tanah, menanam pohon, dan mengelola air hujan merupakan contoh tindakan nyata yang dapat dimulai dari lingkungan terdekat.

Suparman: pengetahuan harus diwujudkan menjadi tindakan

Kepala Dukuh Pacar II, Suparman, menyampaikan bahwa air merupakan sumber daya penting bagi masyarakat sehingga kelestariannya harus dijaga bersama.

“Air harus dijaga kelestariannya karena merupakan salah satu sumber daya yang dimiliki warga Dusun Pacar II. Bagi pemuda dan pemudi, ilmu pengetahuan yang baik ini harus segera diimplementasikan untuk menjaga keseimbangan sumber mata air yang ada, termasuk melalui pemanfaatan air hujan,” ujar Suparman.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam konservasi. Pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan akan memiliki manfaat lebih besar ketika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Kolaborasi HIMITA UPN “Veteran” Yogyakarta, Komunitas Sekolah Air Hujan Banyu Bening, masyarakat, serta mahasiswa relawan diharapkan mampu memperkuat kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan sekitar Sendang Kali Lemusur.

Lebih jauh, upaya konservasi yang konsisten dapat menjadi bagian dari pengurangan risiko bencana, seperti erosi, banjir, dan longsor. Meski demikian, hasilnya membutuhkan perawatan vegetasi, pengelolaan lahan yang tepat, serta keterlibatan masyarakat dalam jangka panjang.

Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari kebiasaan baru: tidak hanya menanam pohon ketika ada program, tetapi juga merawatnya; tidak hanya membicarakan kelangkaan air, tetapi mulai mengelola air hujan; serta tidak hanya menikmati keberadaan mata air, tetapi ikut menjaga kawasan yang menopang keberlangsungannya.

Pada akhirnya, keberhasilan konservasi tidak diukur semata-mata dari jumlah bibit yang masuk ke tanah. Ukurannya juga terletak pada berapa banyak tanaman yang bertahan hidup, seberapa kuat masyarakat menjaga lingkungan, dan sejauh mana pengetahuan berubah menjadi tindakan.

Berakar dalam kepedulian, tumbuh dengan harapan. Menjaga tanah hari ini, merawat air untuk masa depan.

Bumi cuma satu, manusia adalah tamu.

Kontributor: AJ. Purwanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!