Beranda / Pendidikan / 77 SISWA PELITA BANGSA CIREBON BELAJAR DARI HUJAN: MENANAM KESADARAN AIR, MENYIAPKAN MASA DEPAN

77 SISWA PELITA BANGSA CIREBON BELAJAR DARI HUJAN: MENANAM KESADARAN AIR, MENYIAPKAN MASA DEPAN

SLEMAN | pedot.pro –  Bagaimana jika hujan yang selama ini dianggap sebagai peristiwa biasa justru menjadi guru terbaik bagi generasi muda? Dari tetesan air yang jatuh dari langit, siswa dapat belajar tentang ilmu pengetahuan, teknologi, perubahan iklim, hingga tanggung jawab manusia dalam menjaga keberlangsungan kehidupan.

Semangat itulah yang mewarnai kunjungan edukasi 77 siswa dan enam guru SMP–SMA Pelita Bangsa, Cirebon, Jawa Barat, ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Tempursari, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (1/10/2026).

Rombongan yang datang menggunakan dua bus tersebut mengikuti pembelajaran langsung mengenai pemanenan air hujan, teknologi pengolahan air, serta berbagai langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga ketersediaan air bagi kehidupan.

Kedatangan mereka disambut oleh Sri Wahyuningsih, Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening, bersama Kepala Sekolah Air Hujan, Kamaludin yang akrab disapa Bang Udin.

Sebelum kegiatan dimulai, seluruh peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan khidmat. Suasana tersebut menjadi pengingat bahwa mencintai tanah air tidak hanya diwujudkan melalui simbol kebangsaan, tetapi juga melalui kepedulian terhadap lingkungan dan sumber daya alam yang menopang kehidupan masyarakat.

Koordinator acara dari Sekolah Pelita Bangsa, Mediana Kareem, S.Hum., M.Pd., menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari upaya memperluas wawasan siswa mengenai tantangan ketersediaan air dan perubahan iklim.

Persoalan air menjadi perhatian penting karena kebutuhan masyarakat terus berkembang, sementara ketersediaan air yang layak digunakan tidak selalu merata di setiap wilayah.

Tahun 2030 kerap menjadi salah satu horizon pembahasan mengenai risiko krisis air global. Tantangan tersebut perlu disikapi melalui pendidikan, pengelolaan sumber daya yang baik, konservasi, dan pengembangan solusi yang sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.

Karena itu, siswa perlu dibekali bukan hanya dengan pengetahuan tentang masalah lingkungan, tetapi juga kemampuan berpikir kritis untuk memahami penyebab dan mencari jalan keluar.

BELAJAR DENGAN BERTANYA, MEMAHAMI DENGAN MENGALAMI

Sri Wahyuningsih mengawali pembelajaran dengan dialog sederhana yang langsung melibatkan para siswa.

“Apakah kalian pernah kehujanan?”

“Pernah!” jawab mereka serentak.

“Air hujannya pernah tertelan?”

“Iya!”

“Baik-baik saja sampai sekarang?”

“Baik!” jawab para siswa dengan antusias.

Pertanyaan sederhana itu membuka ruang diskusi tentang air hujan dan cara manusia memandangnya. Bu Ning mengajak peserta memahami bahwa air hujan memiliki potensi untuk dimanfaatkan, tetapi penggunaannya harus disertai pengetahuan mengenai kebersihan, pengolahan, dan keamanan.

Dalam pendidikan sains, pengalaman pribadi dapat menjadi pintu masuk pembelajaran. Namun, pengalaman tersebut tetap perlu diuji melalui pengetahuan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Air hujan yang tertelan ketika seseorang kehujanan, misalnya, tidak otomatis membuktikan bahwa semua air hujan aman diminum. Kualitasnya dipengaruhi kondisi atmosfer, lingkungan, permukaan penangkap, sistem penampungan, serta pengolahan yang dilakukan.

Dari sini, para siswa diajak memahami bahwa sikap ilmiah berarti berani bertanya, terbuka terhadap bukti, dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.

5M: ILMU SEDERHANA DENGAN MANFAAT BESAR

Materi kemudian berlanjut pada konsep 5M: Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, dan Mandiri.

Melalui konsep tersebut, siswa diperkenalkan pada gagasan bahwa air hujan dapat dikelola sebagai salah satu sumber daya alternatif. Prosesnya membutuhkan perencanaan penampungan, prosedur kebersihan, pengolahan yang sesuai, dan penyimpanan yang terlindung dari kontaminasi.

Para peserta juga mempelajari ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan) sebagai teknologi penampungan air hujan yang diperkenalkan oleh Banyu Bening.

Sistem tersebut memberi gambaran bagaimana air yang turun dari langit dapat dikumpulkan agar tidak seluruhnya terbuang sebagai limpasan. Air yang ditampung selanjutnya dapat dikelola sesuai peruntukannya, dengan tetap memperhatikan persyaratan kualitas.

Pembelajaran semakin menarik ketika para siswa menyaksikan demonstrasi elektrolisis air dan melihat proses pengolahan secara langsung. Mereka juga berkesempatan mencicipi sampel yang disiapkan dalam kegiatan.

Demonstrasi itu memperkenalkan hubungan antara ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengelolaan air. Meski demikian, proses elektrolisis tidak otomatis menjadikan air aman diminum. Keamanan tetap bergantung pada sistem pengolahan yang digunakan dan hasil pemeriksaan kualitas air.

Pesan utamanya jelas: teknologi akan memberikan manfaat lebih besar apabila dipahami dengan benar dan digunakan berdasarkan prinsip keselamatan.

BUKAN SEKADAR MENAMPUNG HUJAN, TETAPI MENJAGA SIKLUS AIR

Dalam kegiatan tersebut, siswa juga diajak melihat bahwa pengelolaan air tidak berhenti pada penampungan.

Air hujan yang meresap ke dalam tanah berperan dalam siklus hidrologi. Karena itu, upaya seperti pembuatan sumur resapan, lubang biopori, penanaman vegetasi, dan perlindungan ruang terbuka dapat menjadi bagian dari pengelolaan air, apabila diterapkan sesuai karakteristik tanah, kondisi lokasi, dan ketentuan teknis.

Dengan memahami hubungan antara hujan, tanah, air tanah, dan kebutuhan manusia, siswa dapat melihat persoalan air secara lebih menyeluruh.

Mereka tidak hanya belajar bagaimana mendapatkan air, tetapi juga bagaimana menjaga agar lingkungan tetap mampu menyerap dan menyimpan air.

Inilah salah satu pelajaran penting dari pendidikan lingkungan: solusi yang baik bukan hanya menyelesaikan kebutuhan hari ini, melainkan juga mempertimbangkan dampaknya bagi masa depan.

DARI SISWA MENJADI PENGGERAK KEPEDULIAN

Harapan dari kunjungan ini adalah agar para siswa Pelita Bangsa dapat membawa pengetahuan yang diperoleh ke lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Ketika musim hujan tiba, mereka dapat mulai mengamati aliran air di sekitar rumah, mempelajari cara menjaga kebersihan saluran, mendiskusikan pemanenan air bersama guru dan orang tua, serta mengenali pentingnya menggunakan air secara hemat.

Langkah kecil tersebut dapat menjadi awal tumbuhnya kebiasaan baru. Pendidikan tidak lagi berhenti pada catatan di buku atau jawaban dalam ujian, tetapi hadir dalam tindakan nyata sehari-hari.

Kunjungan ini juga memperlihatkan bahwa pembelajaran di luar kelas mampu mempertemukan teori dengan pengalaman. Alam menjadi ruang belajar, teknologi menjadi sarana memahami persoalan, dan siswa menjadi pelaku yang berpotensi membawa perubahan.

Pada akhirnya, generasi muda tidak cukup hanya diwarisi bumi yang indah. Mereka juga perlu dibekali pengetahuan dan kebiasaan untuk merawatnya.

Hujan akan terus menjadi bagian dari kehidupan. Namun, manfaatnya bagi manusia dan lingkungan bergantung pula pada cara kita mengelolanya.

Dari Banyu Bening, para siswa belajar bahwa setiap tetes air memiliki nilai, setiap pengetahuan membawa tanggung jawab, dan setiap tindakan kecil dapat menjadi awal perubahan.

Hari ini belajar dari hujan, esok menjadi penjaga kehidupan.

Bumi cuma satu. Manusia adalah tamu.

Kontributor: AJ. Purwanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!