GUNUNGKIDUL | pedot.pro — Ketika kekeringan menguji ketahanan masyarakat, kepedulian tidak cukup hanya hadir dalam bentuk bantuan. Masyarakat juga membutuhkan pengetahuan, kesiapan, dan gerakan bersama agar persoalan air tidak terus berulang tanpa solusi jangka panjang.
Semangat itulah yang dibawa TUFOC, Nasmoco Bantul, dan Sekolah Air Hujan Banyu Bening dalam kegiatan sosial dan edukasi lingkungan di Kapanewon Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi wujud kepedulian terhadap warga sekaligus ajakan untuk membangun kebiasaan mengelola air secara lebih bijaksana.
Bertempat di Angkringan Pak List, Jalan Raya Panggang–Wonosari, Wuluh, Kalurahan Jetis, kegiatan ini diisi dengan penyaluran 100 tangki air secara simbolis. Bantuan tersebut diterima oleh Penewu Anom Saptosari, Agus Pramana, S.H., M.A.P., sebagai bagian dari upaya membantu masyarakat menghadapi keterbatasan air.

Bagi warga yang harus berjuang memenuhi kebutuhan air sehari-hari, bantuan tersebut memiliki arti penting. Air diperlukan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, sehingga ketersediaannya berkaitan langsung dengan aktivitas, kenyamanan, dan kualitas hidup masyarakat.
Namun, pesan utama kegiatan ini melampaui bantuan fisik. Penyaluran tangki diharapkan menjadi pintu masuk bagi gerakan yang lebih luas, yakni membangun kesadaran bahwa air perlu dipersiapkan, ditampung, dijaga, dan digunakan secara bertanggung jawab sebelum krisis datang.
Ketua TUFOC, Suharyanto, menyampaikan bahwa kegiatan komunitas seharusnya tidak hanya berorientasi pada kebersamaan dan perjalanan, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Melalui kegiatan sosial ini, kebersamaan diharapkan menjadi kekuatan untuk menumbuhkan kepedulian dan membantu menjawab persoalan yang dihadapi warga.
Menurut semangat yang dibawa dalam kegiatan tersebut, bantuan air perlu berjalan beriringan dengan edukasi. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh pertolongan saat mengalami kekurangan, tetapi juga memiliki kesempatan mempelajari cara mempersiapkan cadangan air untuk menghadapi musim kemarau berikutnya.
Pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih atau Bu Ning, memperkenalkan pentingnya pemanfaatan air hujan melalui penampungan yang tepat. Masyarakat dapat memulai dari metode sederhana sesuai kemampuan dan kondisi rumah, maupun mempelajari penerapan teknologi ISLAH atau Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan.
Edukasi mengenai prosedur penampungan, pengelolaan, dan pemeliharaan sarana menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Air hujan yang ditampung harus dijaga kebersihannya dan diolah sesuai peruntukannya. Untuk kebutuhan minum, keamanan air tetap harus dipastikan melalui pengolahan yang sesuai dan pengujian kualitas.
Pesan ini mengingatkan masyarakat bahwa kemandirian air tidak selalu dimulai dari teknologi yang mahal. Kesadaran untuk menghemat penggunaan air, menjaga tempat penampungan, memperbaiki kebocoran, serta memanfaatkan hujan dengan benar merupakan langkah awal yang dapat dilakukan secara bertahap.
Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Kamaludin atau Bang Udin, turut menegaskan pentingnya mewariskan sumber kehidupan kepada generasi berikutnya melalui pesan, “Mewariskan Mata Air lebih Mulia daripada Mewariskan Air Mata.”
Ungkapan tersebut mengandung ajakan agar manusia tidak hanya memikirkan kebutuhan saat ini, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kondisi lingkungan yang akan diwariskan kepada anak cucu. Air yang tersedia hari ini bukan alasan untuk mengabaikan perlindungan sumber air bagi masa depan.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, kegiatan tersebut juga diisi dengan penanaman pohon konservasi secara simbolis di kawasan Masjid Al Mauidoh. Penanaman pohon menjadi pengingat bahwa upaya menjaga ketersediaan air perlu disertai perlindungan lingkungan, termasuk pemeliharaan vegetasi dan kawasan resapan.
Gunungkidul sendiri memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi keterbatasan air pada musim kemarau. Di sejumlah wilayah, masyarakat telah mengembangkan kearifan lokal berupa bak atau tangki semen berukuran besar untuk menampung air. Tradisi tersebut menunjukkan adanya modal sosial dan pengetahuan lokal yang dapat diperkuat melalui edukasi serta pengelolaan yang berkelanjutan.
Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam kegiatan, pada 2026 persoalan kekeringan dilaporkan menjangkau 17 dari 18 kapanewon dan sekitar 70 kalurahan di Gunungkidul. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya kerja bersama yang melibatkan masyarakat, pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan lembaga edukasi.
Tidak ada satu kegiatan yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan kekeringan secara langsung. Penyaluran 100 tangki air merupakan bentuk bantuan untuk kebutuhan mendesak, sedangkan edukasi pemanfaatan air hujan dan penanaman pohon merupakan bagian dari upaya membangun kesiapan jangka panjang.
Karena itu, keberlanjutan program perlu menjadi perhatian bersama. Sarana yang telah disalurkan perlu dimanfaatkan dan dirawat, pengetahuan yang dibagikan perlu diterapkan, dan pohon yang ditanam perlu dijaga agar dapat tumbuh. Dukungan pemerintah serta pendampingan masyarakat juga penting untuk memastikan upaya tersebut sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Kolaborasi TUFOC, Nasmoco Bantul, dan Sekolah Air Hujan Banyu Bening menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat menjadi lebih bermakna ketika disertai pendidikan dan kesadaran lingkungan. Bantuan dapat meringankan kesulitan hari ini, sementara pengetahuan dan kebiasaan baik dapat membantu masyarakat mempersiapkan hari esok.
Pada akhirnya, menjaga air bukan hanya tanggung jawab satu komunitas atau satu lembaga. Ini merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan tindakan nyata, konsistensi, dan kepedulian lintas generasi.
Sebab, ketika air dijaga bersama, harapan untuk masa depan juga ikut dipelihara. Jangan menunggu kekeringan mengetuk pintu rumah untuk mulai belajar menampung air dan menjaga lingkungan.
Bumi cuma satu, manusia adalah tamu.
Kontributor: AJ. Purwanto






