SURAKARTA — PEDOT.PRO || Air bukan sekadar kebutuhan untuk menghilangkan dahaga. Di balik setiap tetesnya, terdapat keberlangsungan kehidupan, ketahanan pangan, keseimbangan ekosistem, serta masa depan generasi mendatang. Kesadaran inilah yang menjadi pesan utama dalam peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2026 yang diselenggarakan di Gereja Santo Petrus Purwosari, Jalan Slamet Riyadi Nomor 370, Penumping, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Mengusung tema “Air adalah Kehidupan, Air adalah Pangan: Merawat Tirta sebagai Wujud Syukur”, kegiatan utama pada Rabu, 21 Oktober 2026, menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai keterkaitan erat antara air, pangan, budaya, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian bumi.
Peringatan tersebut dikemas melalui Festival Jenang, talkshow edukatif, pentas seni, serta bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berbagai kegiatan itu memadukan nilai-nilai tradisi, spiritualitas, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan edukasi lingkungan dalam satu rangkaian acara.
Penggunaan daun-daunan sebagai pembungkus makanan turut menghadirkan pesan sederhana tentang pentingnya mengurangi ketergantungan pada kemasan sekali pakai. Sementara itu, Festival Jenang menjadi sarana untuk mengenalkan kembali kekayaan kuliner tradisional sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa setiap hidangan memiliki keterkaitan dengan tanah, air, sumber daya alam, dan kerja manusia.
Pentas seni dan tarian tradisional juga memperkuat pesan rasa syukur atas anugerah alam. Melalui perpaduan budaya dan edukasi tersebut, masyarakat diajak memahami bahwa pemanfaatan sumber daya alam harus dilakukan secara bijaksana, tanpa mengabaikan keseimbangan lingkungan.
Air dan Pangan Tidak Bisa Dipisahkan
Dalam sambutannya, Rm. Filipus Bimo Perbowo, MSF, mengajak masyarakat memaknai Hari Pangan Sedunia dengan meningkatkan kepedulian terhadap air sebagai sumber kehidupan.
“Jika tidak ada air, tidak ada kehidupan. Inovasi ketahanan pangan dengan mengelola air hujan sebagai sumber air yang dapat dimanfaatkan, termasuk untuk kebutuhan minum setelah dipastikan aman, sungguh menjadi kebahagiaan kita bersama,” ungkapnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan air yang cukup dan berkualitas. Sektor pertanian, peternakan, perkebunan, hingga perikanan membutuhkan pengelolaan air yang baik agar mampu menopang produksi pangan secara berkelanjutan.
Kerusakan dan pencemaran sumber air berpotensi menimbulkan dampak berantai, mulai dari terganggunya ekosistem hingga menurunnya kualitas sumber pangan. Karena itu, upaya menjaga air harus menjadi bagian penting dari strategi membangun ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, S.S., S.E., M.B.A., turut memberikan sambutan dan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia juga menyambut kehadiran Sri Wahyuningsih, S.Ag., pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening dari Yogyakarta, yang hadir untuk berbagi pengetahuan mengenai potensi pemanfaatan air hujan.
Dalam konteks pembangunan daerah, keterkaitan antara ketahanan pangan, ketersediaan air, dan kelestarian lingkungan menjadi isu penting yang memerlukan perhatian bersama. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga keagamaan, komunitas, pelaku UMKM, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat kepedulian terhadap lingkungan serta mendorong pola hidup yang lebih berkelanjutan.
Kegiatan di Gereja Santo Petrus Purwosari ini sekaligus menjadi ruang perjumpaan lintas komunitas untuk membangun kesadaran bahwa merawat lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan kewajiban bersama.
Bu Ning Ajak Masyarakat Mengubah Cara Pandang terhadap Air Hujan
Suasana semakin interaktif ketika talkshow menghadirkan Sri Wahyuningsih, S.Ag., yang akrab disapa Bu Ning, pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening.
Dalam pemaparannya, Bu Ning mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap air hujan. Menurutnya, air hujan perlu dipahami melalui pengetahuan, pengamatan, dan praktik pengelolaan yang tepat, bukan semata-mata berdasarkan anggapan yang berkembang di tengah masyarakat.
Dengan penuh semangat, ia menyampaikan seruan khas:
“Salam Air Hujan penuh Berkah… Berkah… Berkah!”
Bu Ning juga menggemakan slogan edukatif, “Ngombe Banyu Udan Ben Ora Edan.” Ungkapan berbahasa Jawa tersebut digunakan untuk menarik perhatian masyarakat agar lebih terbuka mempelajari potensi air hujan, bukan sebagai klaim medis mengenai manfaatnya bagi kesehatan.
Ia mendorong masyarakat untuk memahami proses terjadinya hujan, kondisi lingkungan, teknik penampungan, serta tahapan pengolahan yang diperlukan sebelum air dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.
Menurut pendekatan edukasi yang disampaikan, perubahan pola pikir harus disertai pengetahuan yang benar dan kebiasaan yang bertanggung jawab. Air hujan memang berpotensi menjadi sumber air alternatif, tetapi kualitasnya sangat dipengaruhi oleh kondisi udara, lokasi penampungan, permukaan penangkap air, serta cara penyimpanan dan pengolahannya.
Asap kendaraan, aktivitas industri, pembakaran sampah, debu, dan berbagai sumber pencemaran lainnya dapat memengaruhi kualitas air hujan. Oleh sebab itu, air yang tampak jernih tidak serta-merta dapat dinyatakan aman untuk dikonsumsi.
Edukasi Penampungan Air Hujan: Kebersihan dan Keamanan Menjadi Prioritas
Dalam sesi edukasi, peserta diperkenalkan pada sejumlah langkah penampungan air hujan yang menitikberatkan pada kebersihan sarana, perlindungan wadah, dan pencegahan pencemaran.
Salah satu praktik yang diperkenalkan Sekolah Air Hujan Banyu Bening adalah tidak langsung menampung air pada awal hujan. Peserta dianjurkan membiarkan hujan turun sekitar 10–15 menit sebelum penampungan dimulai untuk membantu mengurangi sebagian kotoran yang terbawa dari udara maupun permukaan penangkap air.
Namun, durasi tersebut tidak dapat dijadikan jaminan bahwa air telah bebas dari seluruh kontaminan. Tingkat pencemaran dapat berbeda-beda bergantung pada kondisi lingkungan dan sarana penampungan.
Air hujan selanjutnya perlu ditampung menggunakan wadah bersih dan tertutup. Penyaringan sederhana, termasuk menggunakan kain berlapis, dapat membantu mengurangi partikel tertentu, tetapi tidak menjamin hilangnya bakteri, virus, parasit, maupun bahan kimia berbahaya.
Karena itu, untuk kebutuhan minum, air hujan harus melalui pengolahan yang sesuai dan pengujian kualitas berdasarkan potensi risiko pencemaran di lokasi penampungan. Perebusan dapat membantu membunuh banyak mikroorganisme penyebab penyakit, tetapi tidak menghilangkan seluruh kontaminan kimia.
Wadah penampungan juga perlu dibersihkan secara berkala, terlindung dari masuknya kotoran, dan dikelola dengan baik selama penyimpanan.
Pesan ini menjadi salah satu poin penting dalam edukasi ketahanan air: menampung air hujan merupakan langkah awal, sedangkan memastikan kualitas dan keamanannya merupakan tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.
Merawat Air Berarti Menjaga Pangan dan Masa Depan
Selain membahas pemanfaatan air hujan, Bu Ning mengajak masyarakat lebih kritis dalam memperhatikan asal-usul makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari.
Kebersihan, bahan baku, proses pengolahan, serta informasi produk perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan konsumsi. Kesadaran tersebut diharapkan mendorong masyarakat menjalani pola hidup yang lebih sehat dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Air memiliki peran mendasar dalam seluruh rantai pangan. Tanaman membutuhkan air untuk tumbuh, peternakan memerlukan air untuk mendukung kehidupan hewan, sedangkan perikanan bergantung pada kualitas lingkungan perairan. Dengan demikian, pencemaran sumber air dapat berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap produksi pangan dan kehidupan masyarakat.
Pengelolaan air hujan secara tepat dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat ketahanan air, terutama apabila disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan setempat. Upaya tersebut tetap perlu diiringi perlindungan sumber air, penghematan penggunaan air, pengendalian pencemaran, serta perbaikan infrastruktur pengelolaan air.
Peringatan Hari Pangan Sedunia 2026 di Gereja Santo Petrus Purwosari pada akhirnya bukan sekadar perayaan tahunan. Festival Jenang, bazar UMKM, pentas seni, dan talkshow menjadi ruang edukasi yang mempertemukan budaya, spiritualitas, pengetahuan, dan kepedulian terhadap masa depan bumi.
Dari tradisi leluhur, masyarakat belajar menghargai pangan. Dari edukasi air hujan, masyarakat diajak memahami potensi sumber daya alam. Sementara dari pesan para narasumber, tumbuh kesadaran bahwa keberlanjutan kehidupan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Air adalah kehidupan. Air menopang pangan. Merawat air berarti merawat kehidupan, menghormati alam, dan menjaga hak generasi mendatang untuk menikmati lingkungan yang layak huni.
Manusia bukan pemilik mutlak alam, melainkan bagian dari kehidupan yang bergantung padanya. Setiap langkah untuk menjaga air, mengurangi pencemaran, menghargai pangan, dan melestarikan lingkungan merupakan bentuk tanggung jawab terhadap sesama serta masa depan bumi.
“Manusia adalah Tamu, Bumi Cuma Satu.”






