Beranda / Pendidikan / BUKAN SEKADAR MELAUT! NELAYAN TRENGGALEK DIBEKALI ILMU PENYELAMATAN NYAWA LEWAT NAWASENA

BUKAN SEKADAR MELAUT! NELAYAN TRENGGALEK DIBEKALI ILMU PENYELAMATAN NYAWA LEWAT NAWASENA

TRENGGALEK | Pedot.pro — Menghadapi risiko di laut membutuhkan lebih dari sekadar keberanian dan pengalaman. Pengetahuan tentang keselamatan, kemampuan mengenali kondisi darurat, serta keterampilan memberikan pertolongan pertama menjadi bekal penting bagi nelayan untuk melindungi diri dan membantu sesama. Kesadaran inilah yang diperkuat melalui program NAWASENA (Nelayan Waspada, Selamatkan dari Bencana) hasil kolaborasi Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek bersama Laznas LMI.

Kegiatan edukasi dan pelatihan tersebut digelar pada Senin (14/9/2026) di Pantai Kebo, Desa Ngulungwetan, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek. Program ini dirancang untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat pesisir dalam menghadapi kecelakaan, kegawatdaruratan medis, dan berbagai risiko yang dapat terjadi saat melaut.

Pengelola Produksi Perikanan Tangkap Ahli Muda Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek, Jasmani, S.Pi., menjelaskan bahwa NAWASENA merupakan inisiatif untuk memperkuat kesadaran keselamatan dan kemampuan mitigasi bencana di kalangan nelayan lokal.

Menurutnya, kondisi laut tidak selalu dapat diprediksi. Perubahan gelombang, cuaca yang memburuk, hingga kecelakaan saat bekerja dapat menimbulkan situasi darurat yang membutuhkan respons cepat dan tepat.

Karena itu, nelayan perlu dibekali pengetahuan yang tidak hanya membantu mereka mengenali bahaya, tetapi juga memahami langkah pertolongan awal sebelum korban memperoleh penanganan medis lebih lanjut.

Belajar Pertolongan Pertama, dari Teori hingga Praktik

Dalam kegiatan tersebut, Susanto selaku Humanitarian Program Laznas LMI memberikan materi Medical First Responder (MFR), yaitu pembekalan keterampilan dasar untuk merespons kondisi kegawatdaruratan.

Materi yang disampaikan mencakup Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru (RJP), serta teknik balut dan bidai. Peserta mendapatkan penjelasan mengenai fungsi setiap tindakan sekaligus kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan tersebut melalui simulasi.

CPR/RJP merupakan tindakan pertolongan yang ditujukan kepada orang yang mengalami henti jantung. Sementara itu, teknik balut dan bidai dapat membantu menangani luka serta membatasi pergerakan bagian tubuh yang dicurigai mengalami cedera.

Melalui praktik langsung, para peserta diajak memahami bahwa pertolongan pertama membutuhkan pengetahuan, ketenangan, dan penerapan prosedur yang benar. Tindakan juga harus memperhatikan keamanan lokasi serta kemampuan penolong agar tidak menimbulkan risiko tambahan.

Antusiasme terlihat ketika para nelayan mengikuti simulasi dan mencoba teknik yang diperagakan. Pengalaman praktik tersebut diharapkan membantu mereka mengingat materi dan memahami langkah awal yang perlu dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat.

“Keselamatan di laut membutuhkan kesiapsiagaan. Ketika kondisi darurat terjadi, kemampuan memberikan pertolongan pertama dapat menjadi tindakan awal yang sangat berarti,” ujar Susanto.

Dua Kelompok Nelayan Ikuti Pelatihan

Kegiatan NAWASENA diikuti dua Kelompok Usaha Bersama (KUB) nelayan, yakni KUB Trincing dan KUB Putra Samudra. Keterlibatan kedua kelompok ini menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi keselamatan di lingkungan masyarakat pesisir Trenggalek.

Program tersebut dilaksanakan oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek bersama LMI Kabupaten Trenggalek melalui program GANALA (Siaga Bencana Alam). Kolaborasi ini memperkuat peran pemerintah daerah dan lembaga kemanusiaan dalam membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi risiko bencana.

Keterampilan yang diberikan juga diharapkan bermanfaat di luar aktivitas melaut. Nelayan yang memiliki pengetahuan pertolongan pertama dapat membantu memberikan respons awal ketika terjadi kecelakaan atau keadaan darurat di kawasan pantai, termasuk ketika masyarakat dan wisatawan membutuhkan bantuan.

Namun, pertolongan pertama tetap harus dilakukan sesuai pelatihan dan prosedur keselamatan. Dalam situasi berbahaya, penolong perlu mengutamakan keselamatan diri, meminta bantuan petugas, dan memastikan korban mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Susanto berharap para peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh secara bertanggung jawab serta membagikannya kepada rekan sesama nelayan.

“Harapannya, keterampilan yang diperoleh tidak berhenti di ruang pelatihan. Tetapi bisa menjadi bekal nyata ketika terjadi keadaan darurat,” katanya.

Melalui NAWASENA, edukasi keselamatan diharapkan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat pesisir, bukan hanya materi yang dipelajari saat pelatihan. Kesiapsiagaan perlu dibangun melalui latihan, pemahaman risiko, komunikasi yang baik, serta kepedulian terhadap keselamatan sesama.

Sinergi Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek dengan Laznas LMI ini menjadi langkah untuk memperkuat ketangguhan nelayan dalam menghadapi risiko di laut. Dengan bekal pengetahuan yang tepat, masyarakat pesisir diharapkan lebih siap mengenali keadaan darurat, memberikan pertolongan awal sesuai kemampuan, dan menghubungi bantuan profesional ketika diperlukan.

Keselamatan dimulai dari kesiapsiagaan. Semakin baik pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, semakin besar peluang masyarakat untuk merespons keadaan darurat secara tepat dan melindungi sesama. (snt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!