Beranda / Informasi / DARI “AKSARA” KE LITERASI AIR: BANYU BENING AJARKAN CARA ILMIAH MEMANEN AIR HUJAN DI FKY 2026

DARI “AKSARA” KE LITERASI AIR: BANYU BENING AJARKAN CARA ILMIAH MEMANEN AIR HUJAN DI FKY 2026

SLEMAN | Pedot.pro – Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 dengan tajuk “Aksara” resmi ditutup oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, pada Sabtu (19/9/2026), setelah berlangsung selama tujuh hari sejak 13 September.

Penutupan FKY yang digelar di Lapangan Beran, Sleman, ditandai dengan seremoni simbolis pencabutan bilah bambu di gerbang utama festival oleh KGPAA Paku Alam X bersama Bupati Sleman H. Harda Kiswaya, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi, serta jajaran panitia.

Bilah bambu tersebut kemudian diserahkan kepada FJ Kunting dan diarak mengelilingi kawasan festival hingga berakhir di Panggung Taling. Penampilan Kiai Kanjeng menjadi salah satu penanda berakhirnya rangkaian FKY 2026.

Namun, di balik hiruk-pikuk seni dan kebudayaan selama sepekan, FKY 2026 juga menghadirkan pesan penting tentang hubungan manusia dengan alam. Salah satunya melalui Stan Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening, yang mengajak masyarakat melihat hujan dari perspektif berbeda: bukan semata air yang turun dari langit, tetapi sumber daya yang perlu dipahami, ditampung, diolah, dan dijaga kualitasnya.

Tema “Aksara” seakan mendapatkan makna yang lebih luas. Jika aksara merupakan cara manusia mencatat dan mewariskan pengetahuan, maka literasi air adalah cara manusia memahami alam agar pengetahuan tersebut dapat diterapkan untuk keberlanjutan kehidupan.

Di tengah persoalan kekeringan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada musim kemarau, keberadaan stan Banyu Bening menjadi ruang edukasi publik. Pengunjung tidak hanya diperkenalkan pada konsep pemanenan air hujan, tetapi juga diajak memahami bahwa pemanfaatan air hujan membutuhkan prosedur yang benar, mulai dari teknik penangkapan hingga penyimpanan.

Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, S.Ag, menjelaskan bahwa inti gerakan tersebut bukan sekadar mengajak masyarakat meminum air hujan, melainkan membangun kesadaran untuk mengelola air secara mandiri dan bertanggung jawab.

Konsep yang dikenalkan Banyu Bening mencakup 5M: Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, dan Mandiri. Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi dalam menghadapi persoalan ketersediaan air.

Dalam konteks kesehatan lingkungan, aspek keamanan menjadi perhatian utama. Standar kualitas air minum di Indonesia saat ini antara lain mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023, sehingga air yang akan dikonsumsi tetap perlu memenuhi parameter kesehatan yang dipersyaratkan melalui pengelolaan dan pengujian yang sesuai.

Karena itu, edukasi di stan Banyu Bening juga membahas Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam pemanenan air hujan. Masyarakat dikenalkan pada pentingnya kondisi permukaan penangkap air, kebersihan wadah, sistem penyaringan, penutupan tempat penyimpanan, serta perlindungan dari kontaminasi selama proses pengumpulan dan penyimpanan.

Antusiasme pengunjung terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul. Tidak sedikit anak muda yang datang justru membawa pertanyaan kritis mengenai keamanan air hujan.

“Aman, Kak, air hujan diminum?”

Pertanyaan lain juga muncul terkait berbagai informasi mengenai kemungkinan keberadaan mikroplastik dalam air hujan.

Menanggapi hal tersebut, Cahya Nabila menjelaskan bahwa prinsip kehati-hatian harus menjadi bagian dari pemanenan air hujan.

“Yang utama saat menampung adalah memperhatikan kondisi awal hujan. Ketika hujan turun deras, air awal dapat dilewatkan terlebih dahulu sekitar 15–30 menit, kemudian air yang ditampung dialirkan melalui sistem penyaringan dan ditempatkan dalam wadah yang tertutup rapat,” jelasnya.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mengurangi masuknya debu, partikulat, dan berbagai kontaminan yang mungkin terdapat pada permukaan tangkapan maupun lingkungan sekitar. Air yang telah ditampung juga perlu disimpan pada tempat yang sesuai dan terlindung dari kontaminasi.

Penjelasan tersebut sekaligus memberikan perspektif ilmiah bahwa air hujan tidak boleh dipandang secara hitam-putih sebagai air yang otomatis kotor ataupun otomatis aman diminum. Kualitas air merupakan hasil dari proses yang dipengaruhi lingkungan, teknik penangkapan, pengolahan, penyimpanan, dan hasil pengujian laboratorium.

Pemahaman semacam itu menjadi penting di tengah maraknya informasi mengenai mikroplastik, polusi udara, dan pencemaran lingkungan. Masyarakat tidak cukup hanya percaya atau takut terhadap sebuah informasi, tetapi perlu belajar memahami sumber pencemar, jalur masuk kontaminan, teknologi pengolahan, serta parameter kualitas air.

Pesan tersebut semakin kuat melalui talkshow bertajuk “Ngrumat Banyu Udan, Ngrumat Panguripan” yang disampaikan langsung Sri Wahyuningsih di hadapan pengunjung FKY 2026.

Dalam bahasa sederhana, “Ngrumat Banyu Udan, Ngrumat Panguripan” mengandung pesan bahwa merawat air hujan berarti ikut merawat kehidupan.

Diskusi berlangsung secara terbuka dan komunikatif. Sri Wahyuningsih tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi juga mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap air hujan. Minuman segar berbahan rempah yang disajikan dalam suasana diskusi menjadi bagian dari interaksi edukatif dengan pengunjung.

Bagi Banyu Bening, edukasi air tidak berhenti pada pertanyaan apakah air hujan dapat diminum. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana manusia mampu mengelola air hujan secara benar, aman, berkelanjutan, dan sesuai prinsip kesehatan lingkungan?

Dari sudut pandang kebijakan, pemanenan air hujan juga memiliki relevansi dengan upaya konservasi sumber daya air. Ketika masyarakat memiliki kemampuan menampung air hujan, sebagian kebutuhan air dapat dikelola melalui sumber lokal dengan tetap memperhatikan standar kesehatan dan kondisi lingkungan.

Inilah pesan besar yang dapat dibawa pulang dari FKY 2026. Kebudayaan tidak hanya berbicara tentang seni, aksara, pertunjukan, dan tradisi, tetapi juga tentang bagaimana manusia membangun kebiasaan hidup yang selaras dengan alam.

Hujan yang selama ini dianggap biasa ternyata menyimpan pelajaran luar biasa. Ia mengajarkan manusia tentang siklus air, keterbatasan sumber daya, pentingnya ilmu pengetahuan, dan tanggung jawab antargenerasi.

Jika “Aksara” adalah cara manusia menuliskan pengetahuan, maka air adalah salah satu pesan alam yang harus dibaca dengan ilmu pengetahuan.

Sebab ketika manusia belajar membaca hujan, sesungguhnya manusia sedang belajar membaca masa depan.

Ngrumat Banyu Udan, Ngrumat Panguripan.

Bumi cuma satu. Manusia adalah tamu.

Kontributor: AJ. Purwanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!