NGAGLIK | pedot.pro – Ketika ketersediaan air mulai menjadi persoalan, fasilitas pelayanan kesehatan tidak boleh hanya menunggu sumber air kembali tersedia. Kontinuitas air merupakan bagian penting dalam menunjang kebersihan, sanitasi, pelayanan pasien, hingga keberlangsungan operasional fasilitas kesehatan.

Persoalan itulah yang menjadi perhatian Kepala UPT Puskesmas Kare, Kabupaten Madiun, dr. Agnes Ani Triana, bersama sejumlah staf saat melakukan kunjungan pembelajaran ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sleman, Senin (28/9/2026).
Kunjungan tersebut bukan sekadar studi lapangan. Puskesmas Kare datang untuk mempelajari bagaimana air hujan dapat dipanen, ditampung dan diolah secara higienis melalui teknologi ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan) serta teknologi elektrolisis air.
Letak geografis Puskesmas Kare yang berada di kawasan pegunungan menjadi salah satu tantangan tersendiri dalam pemenuhan kebutuhan air.
“Di sekitar Puskesmas Kare saat ini memang sudah susah air dan kebutuhan tinggi. Kebutuhan air bukan hanya untuk staf, tetapi juga pasien rawat inap dan pelayanan PONED,” ujar dr. Agnes.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan air di fasilitas kesehatan memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibandingkan kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Air dibutuhkan untuk menjaga kebersihan ruang pelayanan, sanitasi, kebutuhan pasien, tenaga kesehatan dan berbagai aktivitas operasional lainnya. Karena itu, ketahanan air menjadi bagian penting yang perlu dipikirkan secara sistematis oleh fasilitas kesehatan.
Di Banyu Bening, rombongan Puskesmas Kare diperkenalkan dengan pendekatan 5M: Menampung, Mengolah, Minum, Menabung dan Mandiri.
Konsep tersebut mengajarkan bahwa masyarakat dapat memulai ketahanan air dari lingkungan sendiri dengan memanfaatkan air hujan melalui sistem yang terencana.
Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Kamaludin atau Bang Udin, menyambut positif kunjungan tersebut.
Ia mendorong agar pembelajaran tidak berhenti pada teori, tetapi dapat dikaji untuk kemungkinan penerapan di Puskesmas Kare.
“ISLAH dan pengolahan air hujan dapat menjadi salah satu alternatif yang dikaji untuk menjawab kebutuhan air. Harapannya Puskesmas Kare dapat menjadi contoh bagi masyarakat di sekitarnya apabila penerapannya sesuai dengan kebutuhan dan standar yang dipersyaratkan,” ujarnya.
Selama sekitar tiga jam, peserta mengikuti pembelajaran sekaligus melakukan praktik pengukuran sederhana menggunakan TDS (Total Dissolved Solids).
Sejumlah staf membawa alat TDS dari rumah untuk melakukan perbandingan dengan beberapa produk air kemasan yang beredar di masyarakat.
Dari kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman bahwa TDS dapat digunakan sebagai salah satu indikator sederhana mengenai kandungan zat terlarut dalam air, tetapi tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya ukuran keamanan air minum.
Air dengan TDS rendah belum tentu bebas bakteri, virus atau kontaminan tertentu. Sebaliknya, angka TDS juga tidak secara otomatis menunjukkan bahwa air tersebut tidak layak digunakan. Untuk memastikan keamanan air minum, diperlukan pemeriksaan parameter yang sesuai, termasuk aspek mikrobiologi dan kimia.
Pengetahuan tersebut menjadi penting karena isu air sering kali berkembang berdasarkan persepsi. Air yang terlihat jernih belum tentu aman, sementara air yang berasal dari hujan juga membutuhkan pengelolaan yang benar sebelum digunakan untuk konsumsi.
Sri Wahyuningsih, Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening, kemudian berbagi pengalaman mengenai perjalanan edukasi pemanfaatan air hujan yang selama ini dilakukan komunitas.
Berbagai dokumentasi, foto dan video pengalaman masyarakat diperlihatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Bagi dr. Agnes dan tim, pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa pemanenan air hujan bukan hanya wacana, tetapi telah dipraktikkan dalam berbagai konteks masyarakat.
Meski demikian, penerapan di fasilitas kesehatan membutuhkan pendekatan yang lebih ketat.
Jika hendak digunakan sebagai sumber air minum atau kebutuhan pelayanan tertentu, maka diperlukan kajian mengenai kapasitas tampungan, kualitas air baku, sistem pengolahan, sistem distribusi, sanitasi, pemeliharaan instalasi, hingga pengujian laboratorium secara berkala.
Artinya, teknologi tidak dapat dipisahkan dari standar kesehatan.
Di sinilah pembelajaran Banyu Bening memiliki nilai penting. Masyarakat tidak hanya diajarkan bagaimana menampung hujan, tetapi juga bagaimana berpikir sistematis mengenai air: dari mana sumbernya, bagaimana menangkapnya, bagaimana mengolahnya, bagaimana menyimpannya dan untuk kebutuhan apa air tersebut digunakan.
Ada pula pelajaran sosial yang menarik.
Di Banyu Bening, akses terhadap air hujan yang tersedia dilakukan dengan prinsip keterbukaan. Lokasi pengambilan air tidak dipagari dan masyarakat yang membutuhkan dipersilakan mengambilnya secara gratis.
Bagi mereka yang ingin berbagi, tersedia pula tempat untuk bersedekah. Tidak ada paksaan.
Prinsip tersebut menyampaikan pesan bahwa ketahanan air tidak hanya berbicara tentang teknologi dan infrastruktur. Ada unsur gotong royong, kepedulian, dan keberpihakan kepada kebutuhan masyarakat.
Kunjungan Puskesmas Kare akhirnya mempertemukan tiga hal penting: kesehatan, teknologi dan lingkungan.
Ketiganya tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.
Ketika sumber air semakin sulit diperoleh, fasilitas kesehatan membutuhkan strategi. Ketika teknologi tersedia, penggunaannya membutuhkan ilmu. Dan ketika air hendak dimanfaatkan untuk manusia, keselamatan serta kualitas harus tetap menjadi prioritas.
Air hujan pun kemudian hadir bukan sekadar sebagai air yang jatuh dari langit, melainkan sebagai salah satu potensi sumber daya yang dapat dipelajari dan dikelola.
Sebab kemandirian air tidak selalu dimulai dari proyek besar. Terkadang, ia dimulai dari keberanian untuk menampung hujan yang selama ini dibiarkan jatuh dan mengalir begitu saja.
Dari Kare, Madiun, hingga Sleman, pesannya sama:
rawat air sebelum kita kehilangan air.
Ngrumat Banyu Udan, Ngrumat Panguripan.
Bumi cuma satu. Manusia adalah tamu.
Kontributor: AJ. Purwanto






