Banyuwangi – pedot.pro || Lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Paswangi milik Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi terus menunjukkan peran strategisnya dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia dan sektor pertanian. Tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembinaan kemandirian bagi warga binaan, kawasan yang berlokasi di Kelurahan Pakis tersebut kini juga dipercaya sebagai pusat penyuluhan dan transfer pengetahuan pertanian bagi kelompok tani dari berbagai wilayah di Kabupaten Banyuwangi.
Kepercayaan tersebut diberikan oleh Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Banyuwangi yang menjadikan SAE Paswangi sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan penyuluhan pertanian pada Selasa (9/6). Kegiatan itu diikuti oleh sejumlah kelompok tani dan dipandu langsung oleh para penyuluh pertanian yang memberikan materi terkait pengelolaan pertanian modern, produktif, dan berkelanjutan.
Pemilihan SAE Paswangi sebagai lokasi penyuluhan dinilai bukan tanpa alasan. Kawasan ini dianggap mampu menjadi contoh nyata atau pilot project pengelolaan lahan pertanian yang terintegrasi, sehingga para petani dapat melihat secara langsung penerapan teknik budidaya, pengelolaan lahan, hingga pengembangan sektor pertanian dan perikanan dalam satu kawasan edukatif.
Kepala Lapas Kelas IIA Banyuwangi, Solichin, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan oleh Dispertan Banyuwangi. Menurutnya, sinergi antara lembaga pemasyarakatan dan instansi teknis pemerintah tersebut memberikan manfaat yang luas, tidak hanya bagi masyarakat umum tetapi juga bagi warga binaan yang sedang mengikuti program pembinaan dan asimilasi.
“Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada SAE Paswangi sebagai lokasi penyuluhan pertanian. Kolaborasi ini menghadirkan manfaat ganda, karena selain menjadi sarana pembelajaran bagi para petani, ilmu yang disampaikan para penyuluh juga dapat diserap langsung oleh warga binaan yang sedang menjalani program pembinaan di sini,” ujar Solichin.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keterlibatan warga binaan dalam kegiatan edukasi dan penyuluhan merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kompetensi serta keterampilan mereka. Melalui interaksi langsung dengan para penyuluh dan praktisi pertanian, warga binaan memperoleh wawasan baru yang dapat menjadi bekal berharga saat kembali ke tengah masyarakat.
Menurut Solichin, keberadaan SAE Paswangi sejak awal memang dirancang sebagai pusat pembinaan berbasis keterampilan produktif. Program tersebut bertujuan membentuk warga binaan yang memiliki kemampuan mandiri, khususnya di bidang pertanian dan perikanan, sehingga mampu membuka peluang usaha maupun lapangan pekerjaan setelah menyelesaikan masa pidananya.
“Kami ingin warga binaan tidak hanya mendapatkan pembinaan karakter, tetapi juga memiliki keterampilan yang benar-benar dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Dengan bekal pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh di SAE Paswangi, mereka diharapkan mampu menjadi pribadi yang mandiri, produktif, dan siap berkontribusi positif bagi masyarakat,” tambahnya.
Keberhasilan SAE Paswangi menjadi lokasi penyuluhan pertanian juga menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat menjalani hukuman, melainkan dapat bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Melalui kolaborasi lintas sektor, program pembinaan yang dijalankan mampu memberikan manfaat nyata, baik bagi warga binaan maupun masyarakat luas.
Sinergi antara Lapas Banyuwangi dan Dispertan Banyuwangi ini diharapkan dapat terus berlanjut sebagai bagian dari upaya menciptakan ekosistem pertanian yang maju sekaligus mendukung program pembinaan yang berorientasi pada kemandirian, produktivitas, dan reintegrasi sosial warga binaan ke tengah masyarakat.






